In the news
SEAMEO BIOTROP Perkuat Ekosistem dan Pembangunan Berkelanjutan melalui The 5th International Conference on Tropical Biology
Summary
Heibogor – Mempertegas peran strategisnya sebagai pusat keunggulan biologi tropika di Asia Tenggara, SEAMEO Regional Centre for Tropical Biology (SEAMEO BIOTROP) resmi membuka The 5th International Conference on Tropical Biology (ICTB 2026) di IPB International Convention Center (IICC), Kota Bogor, Senin (5/10/2026).
Edisi kelima ini menjadi bagian dari evolusi ICTB menuju platform yang semakin terintegrasi, dengan menghubungkan sains, pendidikan, inovasi, kebijakan, dan aksi masyarakat dalam menghadapi tantangan keanekaragaman hayati dan lingkungan yang semakin kompleks.
Penyelenggaraan ICTB 2026 yang berlangsung pada 5–7 Oktober 2026 turut menghadirkan keynote speech dari Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria, pameran inovasi keanekaragaman hayati, serta tinjauan lapangan ke Kebun Raya Bogor dan laboratorium hidup Kampus SEAMEO BIOTROP.
Mengusung tema “Biodiversity Beyond Boundaries: Advancing Global Education, Bioscience, and Sustainable Landscapes”, konferensi internasional ini mempertemukan para ilmuwan, pendidik, pembuat kebijakan, praktisi, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara untuk memperkuat kolaborasi serta mendorong solusi nyata bagi pelestarian keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan.
ICTB 2026 menghadirkan empat subtema yang saling terhubung, yaitu Biodiversity Education through Geoparks, National Parks, and Landscape-Based Learning Systems, Sustainable Management of Sub-optimal Lands and Post-Mining Landscapes; Nature-Based Livelihoods; Biotechnology for Biodiversity, Environment, and Climate Change.
51 Abstrak dari Lima Negara ICTB 2026 menerima 51 abstrak/paper yang dipresentasikan dalam dua kategori, yaitu oral presentation dan poster presentation. Dari keseluruhan abstrak tersebut, 43 abstrak dipresentasikan melalui sesi oral presentation, terdiri atas 19 presentasi online dan 24 presentasi offline. Sementara itu, 8 abstrak dipresentasikan dalam kategori poster presentation, terdiri atas 1 presentasi online dan 7 presentasi offline.
Kontribusi ilmiah tersebut berasal dari lima negara, yaitu Indonesia, Filipina, Timor-Leste, Malaysia, dan Algeria. Empat Subtema untuk Menjawab Tantangan Keanekaragaman Hayati Dengan tema “Biodiversity Beyond Boundaries: Advancing Global Education, Bioscience, and Sustainable Landscapes”, ICTB 2026 menekankan bahwa tantangan keanekaragaman hayati tidak dapat diselesaikan melalui satu disiplin ilmu atau satu sektor saja.
Dalam kegiatan ini juga secara resmi diluncurkan PROTIBAGURU (Program Praktik Baik Guru Berkelanjutan) program untuk penguatan kapasitas pendidik dalam mengintegrasikan literasi lingkungan, STEM, dan bioteknologi ke dalam kurikulum pembelajaran.
Kegiatan dibuka oleh Staf Ahli Bidang Teknologi Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Ir. Moch. Abduh, MS.Ed., PhD, yang hadir mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI.
Pembukaan turut dihadiri oleh Deputy Director for Programme and Development at the SEAMEO Secretariat, Prof. Dr. Edi Santosa, Rektor IPB University sekaligus perwakilan Dewan Pembina (Governing Board Member) BIOTROP Dr. Alim Setiawan, Dr. Indra Maha, S.T., M.T. selaku Staf Ahli Gubernur Jawa Barat Bidang Ekonomi dan Pembangunan yang mewakili Gubernur Jawa Barat, serta Wali Kota Bogor Drs. Dedie Abdul Rachim, M.A.
Dalam sambutan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI oleh Ir. Moch. Abduh, MS.Ed., PhD, ditekankan pentingnya peran sentral pendidikan dalam melestarikan keanekaragaman hayati tropis di tengah ancaman deforestasi, alih fungsi lahan, dan krisis iklim.
“Pendidikan keanekaragaman hayati tidak boleh sekadar menghafal spesies atau teori ekologi dari buku teks. Bentang alam kita harus menjadi ruang kelas, hutan kita menjadi laboratorium hidup, sungai menjadi sarana belajar, dan masyarakat menjadi sumber pengetahuan. Guru adalah penggerak utama transformasi ini untuk menumbuhkan nalar kritis, rasa ingin tahu, dan kepedulian lingkungan generasi muda,” ucapnya.
Sementara, Wali Kota Bogor, Dedie Rachim dalam sambutannya mengatakan kegiatan tersebut sejalan dengan program Kota Bogor, sehingga dapat menegaskan kembali Bogor sebagai kota sains yang maju dan berkelanjutan, tempat pengetahuan bertemu dengan inovasi serta ilmu pengetahuan terhubung dengan masyarakat.
Tema “Biodiversity Beyond Boundaries, Advancing Global Education, Bioscience and Sustainable Landscapes” yang diusung juga sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi saat ini.
“Perubahan iklim, hilangnya biodiversitas, pertumbuhan populasi, degradasi lahan, dan tekanan terhadap sumber daya alam tidak mengenal batas administratif. Karena itu, respons kita juga tidak dapat dibatasi oleh batas-batas tersebut. Kita perlu menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan kebijakan publik, pendidikan, inovasi, dan partisipasi masyarakat,” ungkapnya.
Sebagai pemerintah daerah, ia meyakini bahwa ilmu pengetahuan membantu memahami tantangan, pendidikan membangun kesadaran, inovasi menciptakan solusi, dan kolaborasi mengubah pengetahuan menjadi tindakan yang bermakna.
“Kami juga menyadari bahwa masyarakat lokal merupakan mitra yang sangat penting. Pengetahuan, pengalaman, dan partisipasi mereka dapat melengkapi penelitian ilmiah dan memastikan bahwa berbagai inisiatif keberlanjutan sesuai dengan kondisi nyata di lapangan. Dan di seluruh kota, kami berharap Bogor dapat memberikan lebih dari sekadar peluang. Kami berharap Bogor menjadi ruang hidup bagi perubahan yang nyata, tempat penelitian bertemu, gagasan dibagikan, kemitraan dibangun, dan ilmu pengetahuan menciptakan dampak bagi masyarakat,” ujarnya.
Ditempat yang sama, direktur SEAMEO BIOTROP, Edi Santosa mengatakan, Asia merupakan salah satu kawasan yang paling kaya secara biologis di dunia. Meskipun Asia mencakup sekitar 30 persen wilayah dunia, kawasan ini memiliki hampir 20 persen biodiversitas dunia, termasuk sejumlah hotspot biodiversitas global.
Di kawasan ini juga terdapat lebih dari 17 negara megabiodiversitas, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Namun, pada saat yang sama, ekspansi pertanian dan berbagai bentuk pembangunan membuat konservasi biodiversitas menjadi salah satu prioritas regional.
Untuk itu, pemerintah dan masyarakat menghadapi tekanan yang semakin besar akibat perubahan iklim, perubahan penggunaan lahan, pemanfaatan sumber daya yang tidak berkelanjutan, dan polusi.
Tantangannya bukan hanya bagaimana kita dapat mengembangkan biodiversitas, tetapi juga bagaimana memastikan biodiversitas tetap mendukung kehidupan masyarakat dan berkembang secara berkelanjutan untuk generasi mendatang.
“Tantangan ini membutuhkan ilmu pengetahuan, pendidikan, inovasi, intervensi kebijakan, dan tentu saja kolaborasi regional yang kuat. Di sinilah SEAMEO BIOTROP memiliki peran penting,” ungkapnya.
SEAMEO BIOTROP sebagai Regional Centre di bawah SEAMEO didirikan pada 1968. Mandat utamanya adalah berkontribusi terhadap pengembangan dan pengelolaan biologi tropis secara berkelanjutan di Asia Tenggara.
“Mandat kami berfokus pada penelitian, peningkatan kapasitas dan pelatihan, serta penyebarluasan pengetahuan dan informasi mengenai biologi tropis. Melalui mandat tersebut, SEAMEO BIOTROP berupaya menghasilkan dan berbagi pengetahuan, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memfasilitasi kerja sama regional, serta mendukung pengelolaan sumber daya hayati tropis dan biodiversitas secara berkelanjutan,” ucapnya.
Senada dengan hal tersebut, Deputi Direktur Program SEAMEO Secretariat, Mr John Arnold Siena menyambut baik komitmen regional yang dibangun dalam konferensi ini. Ia menekankan bahwa kemitraan lintas batas di Asia Tenggara menjadi kunci strategis dalam merespons krisis keanekaragaman hayati secara kolektif.
Melalui ICTB 2026, SEAMEO BIOTROP kembali menegaskan komitmennya untuk membangun jembatan antara penelitian dan penerapannya di lapangan. Forum ini diharapkan menghasilkan jejaring kolaborasi, pertukaran pengetahuan, rekomendasi kebijakan (policy brief), serta aksi nyata untuk mendukung terwujudnya kawasan tropis yang tangguh, lestari, dan berdaya saing global.