In the news
Bahas Keanekaragaman Hayati, SEAMEO BIOTROP Resmi Buka Konferensi Internasional ICTB 2026
Summary
- Biodiversity Education through Geoparks, National Parks, and Landscape-Based Learning Systems
- Sustainable Management of Sub-optimal Lands and Post-Mining
- Landscapes Nature-Based Livelihoods
- Biotechnology for Biodiversity, Environment, and Climate Change
Perkuat Kolaborasi Sains, Pendidikan, dan Kebijakan
Acara pembukaan ICTB 2026 dihadiri oleh perwakilan perguruan tinggi, lembaga penelitian, sekolah alumni pelatihan BIOTROP, instansi pemerintah, praktisi, serta pemangku kebijakan. Kegiatan dibuka oleh Staf Ahli Bidang Teknologi Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Ir. Moch. Abduh, MS.Ed., PhD, yang hadir mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI. Pembukaan turut dihadiri oleh Deputy Director for Programme and Development at the SEAMEO Secretariat, Prof. Dr. Edi Santosa, Rektor IPB University sekaligus perwakilan Dewan Pembina (Governing Board Member) BIOTROP Dr. Alim Setiawan, Dr. Indra Maha, S.T., M.T. selaku Staf Ahli Gubernur Jawa Barat Bidang Ekonomi dan Pembangunan yang mewakili Gubernur Jawa Barat, serta Wali Kota Bogor Drs. Dedie Abdu Rachim, M.A.
Dalam sambutan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI oleh Ir. Moch. Abduh, MS.Ed., PhD, ditekankan pentingnya peran sentral pendidikan dalam melestarikan keanekaragaman hayati tropis di tengah ancaman deforestasi, alih fungsi lahan, dan krisis iklim. “Pendidikan keanekaragaman hayati tidak boleh sekadar menghafal spesies atau teori ekologi dari buku teks. Bentang alam kita harus menjadi ruang kelas, hutan kita menjadi laboratorium hidup, sungai menjadi sarana belajar, dan masyarakat menjadi sumber pengetahuan. Guru adalah penggerak utama transformasi ini untuk menumbuhkan nalar kritis, rasa ingin tahu, dan kepedulian lingkungan generasi muda,” bebernya.
Dalam kegiatan ini juga secara resmi diluncurkan PROTIBAGURU (Program Praktik Baik Guru Berkelanjutan) program untuk penguatan kapasitas pendidik dalam mengintegrasikan literasi lingkungan, STEM, dan bioteknologi ke dalam kurikulum pembelajaran.
Direktur SEAMEO BIOTROP, Prof. Dr. Edi Santosa, menyampaikan bahwa ICTB 2026 dirancang sebagai wadah terpadu untuk menerjemahkan riset sains menjadi kebijakan terarah, teknologi tepat guna, serta solusi langsung bagi masyarakat.
“Tantangan yang dihadapi ekosistem tropika saat ini saling terkait dan semakin kompleks. Pendekatan solusinya pun harus terintegrasi—menghubungkan sains modern dengan kearifan lokal masyarakat adat. Melalui konferensi ini, kami ingin mempertemukan ide, memperluas kolaborasi riset, serta menyiapkan peneliti muda dan mahasiswa sebagai penerus masa depan konservasi,” terangnya.
Senada dengan hal tersebut, Deputi Direktur Program SEAMEO Secretariat, Mr John Arnold Siena menyambut baik komitmen regional yang dibangun dalam konferensi ini. Beliau menekankan bahwa kemitraan lintas batas di Asia Tenggara menjadi kunci strategis dalam merespons krisis keanekaragaman hayati secara kolektif. Sementara itu, Rektor IPB University Dr. Alim Setiawan dan Wali Kota Bogor Drs. Dedie Abdul Rachim menyatakan kebanggaannya atas dipilihnya Kota Bogor sebagai pusat pertemuan saintifik dunia yang menjembatani sains, inovasi, dan masyarakat.
Penyelenggaraan ICTB 2026 yang berlangsung pada 5–7 Oktober 2026 turut menghadirkan keynote speech dari Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria, pameran inovasi keanekaragaman hayati, serta tinjauan lapangan ke Kebun Raya Bogor dan laboratorium hidup Kampus SEAMEO BIOTROP. Melalui ICTB 2026, SEAMEO BIOTROP kembali menegaskan komitmennya untuk membangun jembatan antara penelitian dan penerapannya di lapangan.