In the news

ICTB 2026 di Bogor Soroti Ancaman Biodiversitas Asia Tenggara, Dorong Kolaborasi Lintas Negara

Source https://radarbogor.jawapos.com/kota-bogor/2610050048/ictb-2026-di-bogor-soroti-ancaman-biodiversitas-asia-tenggara-dorong-kolaborasi-lintas-negara

Summary

RADAR BOGOR – Kekayaan biodiversitas Asia Tenggara kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks di tengah pertumbuhan ekonomi dan pembangunan.

Perubahan penggunaan lahan, urbanisasi, pertumbuhan penduduk, hingga pembangunan infrastruktur dinilai perlu diimbangi dengan kolaborasi lintas negara agar keanekaragaman hayati tetap terjaga dan sumber daya alam dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Isu tersebut menjadi salah satu perhatian dalam The 5th International Conference on Tropical Biology (ICTB) 2026 yang berlangsung di IPB International Convention Center (IICC), Kota Bogor, Senin 5 Oktober 2026.
Direktur SEAMEO BIOTROP, Prof Edi Santosa, mengatakan Asia merupakan salah satu kawasan yang memiliki kekayaan biologis terbesar di dunia.

Wilayah Asia mencakup sekitar 30 persen dari luas dunia dan menjadi rumah bagi hampir 20 persen biodiversitas global, termasuk sejumlah kawasan yang masuk dalam kategori hotspot biodiversitas dunia.

“Di kawasan ini juga terdapat lebih dari 17 negara megabiodiversitas, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Filipina,” kata Edi.
Namun, kekayaan tersebut berada di tengah tekanan yang terus meningkat. Ekspansi pertanian dan pembangunan menjadi sebagian dari faktor yang memberikan tekanan terhadap keberadaan biodiversitas di kawasan Asia Tenggara.


Pertumbuhan ekonomi dan populasi, perkembangan kawasan perkotaan, pembangunan infrastruktur, serta meningkatnya kebutuhan terhadap sumber daya alam memang membuka peluang bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Di sisi lain, berbagai perkembangan tersebut juga membawa konsekuensi terhadap lingkungan.

“Pemerintah dan masyarakat menghadapi tekanan yang semakin besar akibat perubahan iklim, perubahan penggunaan lahan, pemanfaatan sumber daya yang tidak berkelanjutan, polusi, spesies asing invasif, dan berbagai tekanan lingkungan lainnya,” ujarnya.
“Pemerintah dan masyarakat menghadapi tekanan yang semakin besar akibat perubahan iklim, perubahan penggunaan lahan, pemanfaatan sumber daya yang tidak berkelanjutan, polusi, spesies asing invasif, dan berbagai tekanan lingkungan lainnya,” ujarnya.

Biodiversitas Tak Mengenal Batas Negara

Edi menilai berbagai persoalan lingkungan dan biodiversitas tersebut tidak mungkin ditangani hanya oleh satu negara, institusi, maupun disiplin ilmu.

Menurutnya, dibutuhkan keterhubungan antara riset dan ilmu pengetahuan, pendidikan, inovasi, kebijakan, serta kerja sama regional agar tantangan terhadap ekosistem tropis dapat dihadapi secara lebih komprehensif.

“Pertanyaannya bukan hanya bagaimana kita dapat mengembangkan biodiversitas, tetapi juga bagaimana memastikan biodiversitas tetap mendukung kehidupan masyarakat dan berkembang secara berkelanjutan untuk generasi mendatang,” katanya.

Ia menambahkan, biodiversitas tidak dibatasi oleh batas administratif suatu negara.

Oleh sebab itu, strategi untuk menjaga dan mengelolanya juga membutuhkan pendekatan yang melampaui batas wilayah negara.

Dalam konteks tersebut, SEAMEO BIOTROP berupaya memperkuat jejaring antara para ahli, pendidik, komunitas, dan pemangku kepentingan di berbagai negara Asia Tenggara.
Penguatan tersebut dilakukan melalui berbagai kegiatan, mulai dari penelitian, peningkatan kapasitas, pelatihan, penyebaran pengetahuan, hingga pengembangan solusi yang dapat diterapkan di berbagai wilayah.

Saat ini, SEAMEO BIOTROP juga menjalankan sejumlah program yang berkaitan dengan pengelolaan biodiversitas dan keberlanjutan.

Di antaranya agroecotourism, pemanfaatan dan pengelolaan lahan suboptimal, School of Biodiversity, Geopark, Education, Model and Development, serta circular economy dan artificial intelligence.

ICTB 2026 Jadi Ruang Kolaborasi Ilmu Biologi Tropis

Koordinator The 5th ICTB 2026, Dewi Suryani, mengatakan konferensi tersebut menjadi wadah yang mempertemukan berbagai kalangan yang memiliki perhatian terhadap biologi tropis.

Peneliti, akademisi, pendidik, praktisi, pembuat kebijakan, mahasiswa, hingga pemangku kepentingan lainnya dapat bertemu dan bertukar pengetahuan melalui konferensi tersebut.

“Tujuannya untuk memperluas pengetahuan, berbagi pengalaman, dan memperkuat kolaborasi di bidang biologi tropis,” kata Dewi.

Dewi menjelaskan, ICTB pertama kali diselenggarakan pada 2013. Kegiatan tersebut kemudian kembali digelar pada 2015, 2018, dan 2023, sebelum kembali hadir pada 2026.

Pada penyelenggaraan ICTB 2026, sebanyak 51 abstrak diterima untuk dipresentasikan. Jumlah tersebut terdiri atas 43 presentasi oral dan delapan presentasi poster.

Konferensi ini juga diikuti peserta dan pembicara dari berbagai negara. Beberapa di antaranya Aljazair, Austria, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Polandia, Thailand, dan Timor-Leste.

“Kami sangat senang melihat partisipasi yang kuat dari negara-negara di Asia Tenggara, sekaligus mendapatkan kontribusi dari berbagai negara lainnya. Keberagaman ini menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi tantangan kompleks yang dihadapi ekosistem tropis,” ujarnya.
Dewi berharap ICTB 2026 tidak berhenti sebagai forum presentasi penelitian. Menurutnya, konferensi tersebut juga diharapkan menjadi ruang untuk bertukar gagasan, membangun jejaring, dan melahirkan kolaborasi yang dapat menghasilkan solusi bagi masa depan ilmu pengetahuan tropis serta konservasi biodiversitas.

ICTB 2026 Perkuat Identitas Bogor sebagai Kota Sains

Wali Kota Bogor Dedie Rachim mengatakan pelaksanaan ICTB 2026 turut memperkuat posisi Bogor sebagai Kota Sains.

Menurut Dedie, Bogor memiliki potensi untuk menjadi ruang pertemuan antara pengetahuan, inovasi, dan masyarakat.

Kehadiran konferensi internasional tersebut dinilai semakin menegaskan peran tersebut.

“Ini merupakan kesempatan untuk menegaskan kembali Bogor sebagai Kota Sains, tempat pengetahuan bertemu dengan inovasi dan ilmu pengetahuan terhubung dengan masyarakat,” kata Dedie.

Ia menilai tema ICTB 2026, “Biodiversity Beyond Boundaries, Advancing Global Education, Bioscience and Sustainable Landscapes”, sangat berkaitan dengan berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi dunia saat ini.

Perubahan iklim, kehilangan biodiversitas, peningkatan jumlah penduduk, degradasi lahan, hingga tekanan terhadap sumber daya alam tidak mengenal batas administratif.

Karena itu, penanganannya juga membutuhkan kerja sama yang melibatkan berbagai wilayah dan negara.

“Karena itu, respons kita juga tidak dapat dibatasi oleh batas-batas tersebut. Kita perlu menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan kebijakan publik, pendidikan, inovasi, dan partisipasi masyarakat,” ujarnya.

Dedie turut menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat lokal dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
Pengetahuan dan pengalaman masyarakat di tingkat lokal dinilai dapat melengkapi hasil penelitian ilmiah sehingga program yang dikembangkan lebih sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.

Ia juga berharap kehadiran peserta ICTB 2026 di Bogor tidak sebatas untuk mengikuti rangkaian konferensi.

Para peserta diharapkan dapat melihat secara langsung Bogor sebagai kota yang memiliki kekayaan budaya, komunitas, serta biodiversitas yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

“Semoga konferensi ini mendorong perkembangan sains internasional, menginspirasi inovasi, dan berkontribusi pada masa depan yang lebih berkelanjutan,” pungkasnya. (uma)
Download article

Share this article