In the news

Kemendikdasmen Tekankan Pentingnya Sentral Pendidikan dalam Melestarikan Keanekaragaman Hayati di Indonesia

Source https://mediaindonesia.com/humaniora/940768/kemendikdasmen-tekankan-pentingnya-sentral-pendidikan-dalam-melestarikan-keanekaragaman-hayati-di-indonesia

Summary

Staf Ahli Bidang Teknologi Pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Moch. Abduh, menekankan pentingnya peran sentral pendidikan dalam melestarikan keanekaragaman hayati tropis di tengah ancaman deforestasi, alih fungsi lahan, dan krisis iklim.

“Pendidikan keanekaragaman hayati tidak boleh sekadar menghafal spesies atau teori ekologi dari buku teks. Bentang alam kita harus menjadi ruang kelas, hutan kita menjadi laboratorium hidup, sungai menjadi sarana belajar, dan masyarakat menjadi sumber pengetahuan. Guru adalah penggerak utama transformasi ini untuk menumbuhkan nalar kritis, rasa ingin tahu, dan kepedulian lingkungan generasi muda,” ungkapnya dalam acara The 5th International Conference on Tropical Biology (ICTB 2026) di IPB International Convention Center (IICC), Bogor, Senin (5/10). 

Lebih lanjut, bagi Kemendikdasmen, kegiatan ini dikatakan sangat penting, khususnya terkait pengembangan STEM di sekolah yang saat ini sedang dikembangkan oleh Kemendikdasmen. 

“Nah, sangat dekat sekali dengan kegiatan ini di mana siswa-siswa akan kita coba lakukan pembelajaran yang terkait dengan STEM tersebut. STEM kita tagline-nya adalah berani mencoba kreatif mencipta. Jadi, kita perkenalkan STEM yang 5M, mudah, murah, mengembirakan, meaningful, and mindful. Ini akan menghapus miskonsepsi bahwa STEM itu harus mahal. STEM itu harus dengan laboratorium, dengan perlengkapan-perlengkapan, instrumen-instrumen yang mahal dan sulit. Itu kita ubah mindset itu,” tegasnya.

Dalam kegiatan ini juga secara resmi diluncurkan PROTIBAGURU (Program Praktik Baik Guru Berkelanjutan) program untuk penguatan kapasitas pendidik dalam mengintegrasikan literasi lingkungan, STEM, dan bioteknologi ke dalam kurikulum pembelajaran.

Di tempat yang sama, Direktur SEAMEO BIOTROP, Prof. Dr. Edi Santosa, menyampaikan bahwa ICTB 2026 dirancang sebagai wadah terpadu untuk menerjemahkan riset sains menjadi kebijakan terarah, teknologi tepat guna, serta solusi langsung bagi masyarakat.

“Tantangan yang dihadapi ekosistem tropika saat ini saling terkait dan semakin kompleks. Pendekatan solusinya pun harus terintegrasi, menghubungkan sains modern dengan kearifan lokal masyarakat adat. Melalui konferensi ini, kami ingin mempertemukan ide, memperluas kolaborasi riset, serta menyiapkan peneliti muda dan mahasiswa sebagai penerus masa depan konservasi,” tegasnya. 


Senada dengan hal tersebut, Deputi Direktur Program SEAMEO Secretariat, John Arnold Siena menyambut baik komitmen regional yang dibangun dalam konferensi ini. Dia menekankan bahwa kemitraan lintas batas di Asia Tenggara menjadi kunci strategis dalam merespons krisis keanekaragaman hayati secara kolektif.

Sementara itu, Wali Kota Bogor, Dedie Abdul Rachim, mengatakan bahwa Bogor memiliki visi masa depan sebagai kota science kreatif maju berkelanjutan. 

“Nah, artinya apa? Artinya semua stakeholders harus turut. Mulai dari lembaga pendidikan, lembaga riset, pemerintah, masyarakat, swasta, ya termasuk juga para pemerhati dan juga aktivis lingkungan. Nah, ini yang kemudian kita jadikan sebagai langkah bersama untuk terus bagaimana memperbaiki kondisi dunia yang sudah semakin rapuh. Dengan adanya konferensi di kota Bogor, InsyaAllah menguatkan posisi Bogor sebagai kota science kreatif maju berkelanjutan dan terus mengolaborasikan seluruh potensi yang ada,” ujar Dedie.

Penyelenggaraan ICTB 2026 yang berlangsung pada 5–7 Oktober 2026 turut menghadirkan keynote speech dari Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria, pameran inovasi keanekaragaman hayati, serta tinjauan lapangan ke Kebun Raya Bogor dan laboratorium hidup Kampus SEAMEO BIOTROP.

Perlu diketahui, ICTB merupakan salah satu platform internasional yang dikembangkan SEAMEO BIOTROP untuk mempertemukan ilmuwan dan praktisi dalam berbagi hasil penelitian serta memperkuat jejaring dan kolaborasi di bidang biologi tropika dan keanekaragaman hayati.

The 1st International Conference on Tropical Biology (ICTB 1) diselenggarakan di Bogor pada 3–5 Oktober 2013, menandai dimulainya platform konferensi internasional SEAMEO BIOTROP. Forum ini menjadi ruang bagi para ilmuwan dan praktisi untuk berbagi temuan penelitian serta memperkuat kerja sama di bidang biologi tropika dan keanekaragaman hayati.

Perjalanan tersebut dilanjutkan melalui ICTB 2 di Bogor pada 12–13 Oktober 2015, yang semakin memperkuat ICTB sebagai wadah pertukaran pengetahuan dan jejaring ilmiah internasional.

Selanjutnya, ICTB 3 pada 20–21 September 2018 memperluas cakupan diskusi pada keanekaragaman hayati tropika, keberlanjutan lingkungan, serta penerapan ilmu pengetahuan dalam menghadapi tantangan lingkungan yang terus berkembang.

Memasuki penyelenggaraan keempat, ICTB 4 yang berlangsung di Bogor pada 25–26 Oktober 2023 semakin memperkuat posisi ICTB sebagai forum multidisiplin yang menghubungkan penelitian ilmiah, pendidikan, pengelolaan lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan.

Setelah membangun pengalaman, jejaring, dan kolaborasi melalui empat penyelenggaraan sebelumnya, SEAMEO BIOTROP kini menghadirkan ICTB 2026 sebagai penyelenggaraan kelima pada 5–7 Oktober 2026 di Bogor, Indonesia. 


Edisi kelima ini menjadi bagian dari evolusi ICTB menuju platform yang semakin terintegrasi, dengan menghubungkan sains, pendidikan, inovasi, kebijakan, dan aksi masyarakat dalam menghadapi tantangan keanekaragaman hayati dan lingkungan yang semakin kompleks.


ICTB 2026 menerima 51 abstrak/paper yang dipresentasikan dalam dua kategori, yaitu oral presentation dan poster presentation. Dari keseluruhan abstrak tersebut, 43 abstrak dipresentasikan melalui sesi oral presentation, terdiri atas 19 presentasi online dan 24 presentasi offline. Sementara itu, 8 abstrak dipresentasikan dalam kategori poster presentation, terdiri atas 1 presentasi online dan 7 presentasi offline. Kontribusi ilmiah tersebut berasal dari lima negara, yaitu Indonesia, Filipina, Timor-Leste, Malaysia, dan Algeria. 

Empat Subtema untuk Menjawab Tantangan Keanekaragaman Hayati

Dengan tema “Biodiversity Beyond Boundaries: Advancing Global Education, Bioscience, and Sustainable Landscapes”, ICTB 2026 menekankan bahwa tantangan keanekaragaman hayati tidak dapat diselesaikan melalui satu disiplin ilmu atau satu sektor saja. Diperlukan kolaborasi antara ilmuwan, lembaga pendidikan, pemerintah, dunia usaha, masyarakat lokal, dan mitra internasional.

Untuk itu, ICTB 2026 menghadirkan empat subtema yang saling terhubung, yaitu Biodiversity Education through Geoparks, National Parks, and Landscape-Based Learning Systems, Sustainable Management of Sub-optimal Lands and Post-Mining Landscapes; Nature-Based Livelihoods; Biotechnology for Biodiversity, Environment, and Climate Change.

Melalui ICTB 2026, SEAMEO BIOTROP kembali menegaskan komitmennya untuk membangun jembatan antara penelitian dan penerapannya di lapangan. Forum ini diharapkan menghasilkan jejaring kolaborasi, pertukaran pengetahuan, rekomendasi kebijakan (policy brief), serta aksi nyata untuk mendukung terwujudnya kawasan tropis yang tangguh, lestari, dan berdaya saing global. (H-2)

Download article

Share this article