Kemendikdasmen Perkuat Kompetensi Guru SLB dan Luncurkan Lalubi Ruang Apresiasi Karya Anak Berkebutuhan Khusus
klikbogor.id - on 23 Jul 2026

Source: https://klikbogor.id/kemendikdasmen-perkuat-kompetensi-guru-slb-dan-luncurkan-lalubi-ruang-apresiasi-karya-anak-berkebutuhan-khusus/

Summary:

KlikBogor – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat transformasi pendidikan inklusif melalui peningkatan kompetensi guru Sekolah Luar Biasa (SLB).

Upaya tersebut diwujudkan melalui Program Peningkatan Kompetensi Guru SLB Bidang Keterampilan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang diselenggarakan Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (PMPK) di Hotel Rizen Padjajaran, Bogor, pada 14-17 Juli 2026.

Program ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk meningkatkan kapasitas guru pendidikan khusus agar mampu memanfaatkan teknologi digital dalam pembelajaran sekaligus menyiapkan peserta didik berkebutuhan khusus agar lebih mandiri dan adaptif menghadapi perkembangan dunia kerja.

Kegiatan tersebut dihadiri Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar, Rita Pranawati, yang memberikan apresiasi kepada para guru SLB atas dedikasi mereka dalam mendampingi dan mengembangkan potensi anak-anak berkebutuhan khusus.

Menurut Rita, menjadi guru di sekolah luar biasa merupakan pilihan pengabdian yang membutuhkan kesabaran, kepedulian, dan komitmen yang tinggi.

“Tidak banyak orang yang bersedia bekerja di SLB. Hanya sedikit yang memilih mengabdikan dirinya untuk sekolah luar biasa. Karena itu, dedikasi para guru layak mendapatkan apresiasi,” ujarnya.

Ia berharap pelatihan tersebut tidak hanya meningkatkan kompetensi teknis guru dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi, tetapi juga melahirkan pendidik yang mampu menjadi penggerak perubahan di satuan pendidikan masing-masing.

“Kolaborasi seperti ini penting untuk melahirkan guru yang mampu menjadi agent of change sehingga lahir berbagai inovasi pembelajaran yang semakin berpihak kepada anak berkebutuhan khusus,” kata Rita.

Antusiasme guru terhadap program ini cukup tinggi. Sebanyak 855 guru SLB dari berbagai provinsi di Indonesia mendaftarkan diri pada tahap awal. Setelah melalui proses verifikasi dan validasi administrasi, 812 guru dinyatakan memenuhi persyaratan untuk mengikuti pembelajaran secara daring.

Berdasarkan hasil evaluasi akademik, keterwakilan wilayah, dan satuan pendidikan, sebanyak 30 guru terbaik kemudian dipilih mengikuti pelatihan praktik secara luring di Bogor.

Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Arif Jamali, mengatakan bahwa peningkatan kompetensi guru tidak hanya diarahkan pada penguasaan teknologi, tetapi juga pada penguatan ekosistem pembelajaran yang mampu memberikan ruang apresiasi bagi karya peserta didik berkebutuhan khusus.

Untuk mendukung tujuan tersebut, Direktorat Guru PMPK memperkenalkan Lalubi (Lapak Luar Biasa), sebuah platform digital yang dirancang sebagai ruang apresiasi bagi hasil karya peserta didik pendidikan khusus dari berbagai daerah di Indonesia.

Menurut Arif, selama ini banyak karya peserta didik berkebutuhan khusus hanya dikenal di lingkungan sekolah sehingga belum memperoleh ruang yang memadai untuk diapresiasi masyarakat.

“Tujuan utama platform ini bukan semata-mata mendorong penjualan produk, melainkan menjadi simbol penghargaan atas karya yang dihasilkan sekaligus membangun kesadaran bahwa anak berkebutuhan khusus mampu menciptakan karya yang berkualitas, bernilai, dan layak memperoleh pengakuan yang sama,” ujar Arif.

Ia menambahkan, Lalubi diharapkan menjadi etalase nasional yang menampilkan kreativitas peserta didik berkebutuhan khusus sekaligus memperkuat kepercayaan diri mereka untuk terus berkarya.

Pengembangan platform tersebut juga didukung melalui kolaborasi dengan berbagai mitra. Sebelumnya Direktorat Guru PMPK telah bekerja sama dengan SEAMEO BIOTROP dalam penyelenggaraan peningkatan kompetensi guru SLB bidang keterampilan pertanian.

Kolaborasi tersebut diwakili Dewi Suryani Oktavia Basuki, S.P., M.M., Manajer Department Human Center and Innovation SEAMEO BIOTROP, yang mendukung penguatan kompetensi guru dalam bidang pertanian berbasis teknologi. Produk-produk hasil pembelajaran dari program ini selanjutnya akan dipublikasikan melalui platform Lalubi sehingga dapat dikenal masyarakat lebih luas.

Kerja sama tersebut menjadi langkah awal membangun sinergi antara pemerintah dan lembaga internasional dalam memperkuat pendidikan inklusif sekaligus mendorong kemandirian peserta didik berkebutuhan khusus melalui pengembangan keterampilan vokasional.

Ketua Tim Kerja Pembelajaran, Kesejahteraan, dan Penghargaan Direktorat Guru PMPK, Dr. Ahmad Budidarma, S.Kom., M.M., mengatakan, pelatihan ini dirancang untuk memastikan pemerataan kesempatan peningkatan kompetensi guru pendidikan khusus di seluruh Indonesia.

Menurutnya, peserta yang mengikuti pelatihan tidak hanya berasal dari kota-kota besar, tetapi juga dari wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), termasuk dari Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara.

“Kami ingin memastikan bahwa peningkatan kompetensi guru pendidikan khusus tidak hanya dinikmati oleh guru-guru di daerah perkotaan. Guru dari wilayah perbatasan seperti Kabupaten Pulau Morotai juga kami hadirkan dalam pelatihan ini. Hal tersebut menjadi wujud komitmen Kemendikdasmen dalam menghadirkan pemerataan layanan peningkatan kompetensi bagi seluruh guru pendidikan khusus di Indonesia,” ujar Ahmad.

Ia menjelaskan, keberagaman asal peserta menjadi kekuatan tersendiri karena membuka ruang berbagi pengalaman antarguru dari berbagai karakteristik daerah. Dengan demikian, praktik-praktik baik yang berkembang di berbagai wilayah dapat saling dipelajari dan diterapkan sesuai kebutuhan masing-masing satuan pendidikan.

Menurut Ahmad, pelatihan ini juga menjadi momentum memperkenalkan Lalubi sebagai media apresiasi nasional terhadap karya peserta didik berkebutuhan khusus.

“Kami berharap semakin banyak produk hasil karya anak-anak berkebutuhan khusus yang dapat diperkenalkan kepada masyarakat. Bagi mereka, setiap karya yang diapresiasi merupakan bentuk penghormatan atas kreativitas, kemampuan, dan potensi yang mereka miliki. Kami juga menghadirkan guru penyandang disabilitas sebagai peserta pelatihan. Kehadiran mereka membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya, berinovasi, dan menghasilkan produk yang memiliki nilai serta mampu bersaing,” tuturnya.

Melalui penguatan kompetensi guru, pemanfaatan teknologi digital, serta pengembangan platform Lalubi, Kemendikdasmen berharap pendidikan khusus di Indonesia semakin mampu menciptakan ekosistem pembelajaran yang inklusif, adaptif, dan berorientasi pada pemberdayaan peserta didik.

Program yang berlangsung hingga 17 Juli 2026 ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat kualitas guru pendidikan khusus sekaligus memperluas ruang apresiasi terhadap karya anak-anak berkebutuhan khusus.

Dengan dukungan berbagai mitra dan kolaborasi lintas sektor, pendidikan inklusif juga diharapkan semakin mampu melahirkan generasi yang mandiri, kreatif, produktif, dan memperoleh kesempatan yang setara untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa.

(rls/hrs)

Download article

Share this: