Summary:
SLEMAN, kedu.suaramerdeka.com - Seameo Biotrop berkolaborasi dengan Universitas Islam Indonesia (UII), dan SEAQiM menyelenggarakan pelatihan nasional dan seminar regional tentang ekonomi sirkular. Kegiatan ini mengangkat tajuk Ekonomi Sirkular untuk Pertanian Berkelanjutan, Pengelolaan Sumber Daya Alam, Pariwisata Berbasis Alam, dan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan melalui Integrasi STEM.
Pelatihan dan seminar diadakan di Ruang IRC Gedung FTSP UII, Selasa (30/6/2026), dan berlangsung secara hibrid. Peserta seminar regional berjumlah sekitar 70 orang meliputi pendidik, peneliti, mahasiswa, aparatur pemerintah, perwakilan sektor swasta, dan masyarakat umum. Sementara itu, agenda pelatihan nasional diikuti oleh 30 guru SMA dari Yogyakarta dan sekitarnya.
ara narasumber dan instruktur berasal dari Seameo Biotrop, Universitas Islam Indonesia (UII), SEAQIM, dan IPB. Selaku keynote speaker adalah Prof Edi Santosa (Direktur Seameo Biotrop/IPB).
Dekan FTSP UII, Prof Ilya Fadjar Maharika menjelaskan, latar belakang diselenggarakan kegiatan ini dikarenakan meningkatnya volume limbah organik yang dihasilkan dari sektor pertanian dan rumah tangga. Kondisi itu menjadi tantangan signifikan dalam pengelolaan lingkungan global.
"Model ekonomi linier konvensional (ambil–buat–buang) telah terbukti berkontribusi pada degradasi lingkungan, emisi gas rumah kaca, dan pemanfaatan sumber daya alam yang tidak efisien," jelas Ilya.
Dalam konteks pertanian dan pengelolaan biomassa, praktik Ekonomi Sirkuler dapatdiimplementasikan melalui konversi limbah organik menjadi produk bernilai tambah. Pengomposan diakui sebagai metode yang efektif untuk mendaur ulang biomassa menjadi pupuk organik yang mampu meningkatkan sifat fisik, kimia, dan biologis tanah.
Selain itu, pemanfaatan residu pertanian, seperti jerami padi, sebagai substrat untuk budidaya jamur telah terbukti meningkatkan nilai ekonomi limbah sekaligus mengurangi pembakaran lahan terbuka yang berkontribusi terhadap emisi karbon.
Limbah organik juga dapat dimanfaatkan melalui biokonversi menggunakan larva Lalat Tentara Hitam (BSF), yang secara efektif mengurangi volume limbah organik sekaligus menghasilkan biomassa bernilai ekonomi untuk pakan ternak.
Disamping itu, pengolahan limbah buah menjadi bioenzim melalui fermentasi telah menunjukkan potensi sebagai agen pembersih alami dan pupuk organik cair. Demikian pula, produksi pupuk organik cair dari residu tanaman dapat meningkatkan efisiensi penggunaan nutrisi dan mendukung sistem pertanian berkelanjutan.
"Penerapan praktik-praktik semacam itu di tingkat institusi menuntut penguatan kapasitas sumber daya manusia agar dapat mengintegrasikan konsep Ekonomi Sirkular secara efektif ke dalam kegiatan operasional, penelitian, dan program pengabdian masyarakat," imbuh Ilya.
Di luar sektor pertanian, prinsip-prinsip Ekonomi Sirkular semakin relevan dengan praktik rekayasa lingkungan berkelanjutan dan pengelolaan lingkungan. Berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan, kawasan permukiman, fasilitas umum, dan inisiatif berbasis masyarakat menghasilkan limbah—baik organik maupun anorganik—yang memerlukan pengelolaan terpadu.
Melalui praktik Ekonomi Sirkular, limbah tersebut dapat diolah menjadi kompos, pupuk organik cair, bioenzim, bahan daur ulang, serta produk bernilai tambah lainnya yang berkontribusi pada penghijauan perkotaan, pengelolaan lingkungan setempat, dan pengembangan ekonomi masyarakat.
Pendekatan ini tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga meningkatkan efisiensi sumber daya serta memperkuat praktik pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Meskipun teknologi dan praktik Ekonomi Sirkular terus berkembang, penerapannya di institusi pendidikan, pemerintah daerah, komunitas, dan masyarakat masih terkendala oleh berbagai tantangan.
"Tantangan tersebut meliputi keterbatasan pengetahuan, kapasitas teknis yang belum memadai, akses terbatas terhadap teknologi yang tepat, serta integrasi konsep Ekonomi Sirkular yang belum optimal ke dalam program pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang berbasis STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) serta Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (ESD)," jelas Ilya.
Oleh karena itu, diperlukan upaya sistematis untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia dalam mengadopsi, mengembangkan, dan menyebarluaskan praktik Ekonomi Sirkular yang praktis dan berdampak nyata.
Download article