Summary:
Harianbengkuluekspress.id – SEAMEO BIOTROP menggandeng Universitas Bengkulu (Unib) menggelar pelatihan pengolahan lahan sub-optimal bagi 30 guru SMA dan SMK se-Provinsi Bengkulu, Selasa 19 Mei 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program edukasi dan transfer teknologi yang terus diperluas ke berbagai daerah di Indonesia.
Pelatihan yang berlangsung di Universitas Bengkulu itu dibuka langsung oleh Rektor Unib, Indra Cahyadinata. Dalam sambutannya, ia menegaskan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab dalam meningkatkan kapasitas guru menghadapi tantangan pengelolaan lingkungan dan ketahanan pangan.
“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab mendukung peningkatan kapasitas guru dalam menghadapi tantangan pengelolaan lingkungan dan ketahanan pangan, sekaligus melahirkan inovasi pembelajaran yang berdampak nyata bagi masyarakat,” ujar Indra.
Sementara itu, Direktur SEAMEO BIOTROP, Prof Dr Edi Santosa mengatakan, seminar regional dan pelatihan nasional tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi regional sekaligus meningkatkan peran guru dalam pengelolaan lahan sub-optimal.
“Pelatihan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi regional sekaligus meningkatkan peran guru SMK dalam pengelolaan dan pemanfaatan lahan sub-optimal,” katanya.
Deputi Direktur SEAMEO BIOTROP, Dr Doni Yusri menjelaskan, pelatihan bertujuan meningkatkan pemahaman guru terkait pemanfaatan lahan yang mengalami penurunan produktivitas.
Menurutnya, guru diharapkan menjadi agen penyebaran pengetahuan kepada siswa maupun masyarakat di lingkungan masing-masing.
“Lahan sub-optimal merupakan lahan yang memiliki keterbatasan tertentu seperti terlalu asam, terlalu asin, tergenang air, maupun mengalami degradasi akibat aktivitas manusia. Kondisi tersebut membuat lahan sulit dimanfaatkan secara maksimal tanpa teknologi dan perlakuan khusus,” jelas Doni.
Ia menyebutkan, kategori lahan sub-optimal meliputi lahan rawa, gambut, salin, pasang surut, hingga lahan kering masam dan lahan rusak akibat penggunaan berlebihan.
Melalui pelatihan itu, peserta diperkenalkan dengan berbagai metode pengelolaan agar lahan kembali produktif dan memiliki nilai ekonomi tanpa mengabaikan aspek konservasi lingkungan.
“Pendekatan konservasi tetap menjadi perhatian utama agar pemanfaatan lahan tidak merusak lingkungan,” tambahnya.
Doni menilai Bengkulu memiliki potensi besar dalam pengembangan konsep pengelolaan lahan sub-optimal karena karakteristik lahannya yang beragam dan membutuhkan inovasi teknologi tepat guna.
Kerja sama dengan Unib juga dinilai penting untuk mendukung transfer ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat lokal.
Selain fokus pada pengelolaan lahan sub-optimal, SEAMEO BIOTROP juga menjalankan sejumlah program lain seperti smart urban farming, circular economy, dan geopark educational model sebagai bagian dari penguatan pendidikan lingkungan dan ketahanan pangan berbasis teknologi.
“Sepanjang 2025, SEAMEO BIOTROP telah memberikan pelatihan kepada lebih dari 500 guru dari sekitar 150 sekolah di Indonesia. Tahun 2026 ini kami menargetkan perluasan pelatihan ke sekitar 15 provinsi,” tutup Doni. (Bhudi/Rio)
Download article