SEAMEO BIOTROP Gandeng BGN dan Pemkot Bogor Pasok Ikan Sistem Bioflok untuk MBG
voi.id - on 08 May 2026

Source: https://voi.id/berita/574176/seameo-biotrop-gandeng-bgn-dan-pemkot-bogor-pasok-ikan-sistem-bioflok-untuk-mbg

Summary:

BOGOR – Sinergi antara lembaga riset dan pemerintah semakin diperkuat demi menyukseskan program strategis nasional. Lembaga Southeast Asian Regional Centre for Tropical Biology (SEAMEO BIOTROP) kini tengah mematangkan koordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) serta Pemerintah Kota Bogor untuk mengimplementasikan teknologi budidaya ikan sistem bioflok di pemukiman padat.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya konkret mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam menciptakan kemandirian pangan nasional.

Implementasi inovasi ini sejalan dengan masifnya pembangunan infrastruktur gizi di wilayah Bogor. Berdasarkan data BGN per Mei 2026, Kota Bogor telah mengoperasikan 33 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh kecamatan untuk melayani sekitar 110.000 siswa.

Kehadiran teknologi bioflok diharapkan menjadi solusi praktis bagi pemerintah dalam memenuhi kebutuhan protein segar dari hulu ke hilir dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat.

Direktur SEAMEO BIOTROP, Edi Santosa, menjelaskan bahwa satu unit SPPG nantinya akan disuplai dari hasil budidaya 16 rumah warga binaan yang dikoordinasikan langsung dengan pemerintah daerah sebagai proyek percontohan.

Menurutnya, inovasi bioflok sangat efektif menjawab tantangan keterbatasan lahan di perkotaan karena mampu menghasilkan panen ikan dalam jumlah besar hanya dengan memanfaatkan sisa lahan rumah tangga.

"Kita koordinasikan dengan BGN dan Pemkot Bogor dengan intensif ke depan. Ini adalah bukti nyata bahwa teknologi bisa diterapkan meskipun lahan kita sempit. Jika skalanya sedikit diperluas, ini sangat bisa digunakan untuk menyuplai program Makan Bergizi Gratis (MBG)," ujar Edi di Biotrop, Tajur, Kota Bogor, Rabu, 6 Mei.

Secara teknis, satu unit SPPG yang memerlukan sekitar 3.000 porsi ikan dalam sekali menu dapat dipenuhi dari kolam bioflok seluas 30 meter kubik atau setara lahan berukuran 5x6 meter.

Edi merinci bahwa jika kebutuhan tersebut dikonversi ke skala pemukiman, maka cukup melibatkan 16 rumah tangga atau sekitar dua kelompok Dasawisma.

Ia menambahkan bahwa satu kolam ukuran satu meter kubik mampu menghasilkan 100 ekor ikan ukuran besar dalam tiga bulan, sehingga rumah tipe 21 yang memiliki sisa lahan terbatas tetap bisa mengelola kolam secara berkelanjutan.

Keunggulan metode ini dibandingkan cara konvensional terletak pada penggunaan aerator untuk kontrol kualitas air dan pengumpan otomatis yang menjamin hasil panen seragam dalam waktu singkat.

Hanya dalam tiga bulan, ikan sudah mencapai ukuran konsumsi setengah kilogram per ekor dengan populasi yang jauh lebih padat.

Selain aspek produktivitas, Edi menekankan bahwa penggunaan bioflok di lingkungan kota menerapkan konsep low food miles yang memangkas jarak antara produsen dan konsumen, sehingga pemerintah dapat menghemat biaya transportasi sekaligus menjamin kesegaran pangan bagi siswa.

Di sisi lain, kolam-kolam bioflok ini juga memiliki fungsi ekologis sebagai waduk retensi untuk membantu pemerintah mengatasi masalah musiman di wilayah Bogor dan sekitarnya.

"Air hujan di Bogor jangan sampai langsung mengalir ke sungai Ciliwung dan menyebabkan banjir di Jakarta. Airnya bisa ditampung di kolam-kolam bioflok ini. Jadi ada fungsi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang terbangun sekaligus," pungkas Edi.


Download article

Share this: