Seameo Biotrop Dukung Ketahanan Pangan & Program MBG Lewat Inovasi di Bidang Akuakultur
bogor.viva.co.id - on 08 May 2026

Source: https://bogor.viva.co.id/kabar-bogor/4907-sameo-biotrop-dukung-ketahanan-pangan-program-mbg-lewat-inovasi-di-bidang-akuakultur

Summary:

Kota Bogor, Viva Bogor – Seameo Biotrop menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui panen raya ikan nila dan lele berbasis teknologi bioflok. Inovasi di bidang akuakultur ini diproyeksikan menjadi solusi strategis dalam menyuplai sumber protein berkelanjutan bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui skema smart urban farming.

Kegiatan panen yang berlangsung di Bogor pada Rabu 6 Mei 2026 ini memamerkan keberhasilan teknologi bioflok dalam menghasilkan ikan berkualitas tinggi di lahan terbatas.

Panen perdana tahun 2026 ini turut dihadiri oleh dua Deputi Direktur Biotrop, Doni Yusri dan Elis Rosdiawati, beserta jajaran manajer dan staf terkait.

Direktur Seameo Biotrop, Edi Santosa, menyatakan bahwa inovasi ini dirancang untuk menjawab tantangan keterbatasan lahan di perkotaan sekaligus meningkatkan efisiensi sumber daya. "Penerapan teknologi bioflok ini adalah bukti nyata bahwa produksi pangan bergizi dapat dilakukan secara efisien dan adaptif. Ini menjadi kontribusi langsung Biotrop dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis, di mana masyarakat bisa memproduksi protein hewani secara mandiri dan berkelanjutan," ujar Edi Santosa.

Edi menegaskan berdasarkan kajian saat ini, teknologi bioflok mampu menampung kepadatan tinggi hingga 150 ekor ikan per meter kubik. Ia menjelaskan bahwa untuk memenuhi kebutuhan satu Satuan Pelayanan Pemakanan Bergizi (SPPG) yang memerlukan sekitar 3.000 porsi ikan, hanya dibutuhkan lahan kolam seluas 30 meter kubik atau setara dengan area 5 x 6 meter. "Jika dikelola secara komunal, misalnya melalui koordinasi 16 rumah tangga atau dua Dasawisma, kebutuhan satu SPPG bisa tercukupi secara mandiri. Hal ini tidak hanya menjamin pasokan gizi, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal melalui pengolahan ikan, seperti produk fillet," tambahnya. Inovasi akuakultur ini menawarkan efisiensi pakan hingga 20 dan 30 persen dan meminimalkan penggunaan air. Dengan bantuan alat feeder otomatis dan pengaturan sirkulasi udara yang ketat, ikan dapat mencapai bobot ideal (setengah kilogram per ekor) hanya dalam waktu tiga bulan dengan hasil yang seragam. Selain produktivitas, Edi menekankan keunggulan dari sisi urban farming, yaitu rendahnya food miles. Dengan memproduksi pangan di lokasi yang dekat dengan konsumen, kualitas nutrisi tetap terjaga, biaya transportasi berkurang, dan emisi karbon dapat ditekan secara signifikan.

"Semakin jauh pangan menempuh perjalanan transportasi, maka kualitasnya menurun dan emisi karbonnya tinggi. Dengan budidaya di lingkungan sendiri, pangan lebih segar, hemat bahan bakar, dan menggerakkan ekonomi lokal," kata Edi.

Sebagai bagian dari dampak jangka panjang, Seameo Biotrop juga mengintegrasikan akuakultur ini dengan sistem hidroponik dan telah menyelenggarakan pelatihan bagi sekolah-sekolah di seluruh Indonesia sejak tahun 2025.

Langkah ini diambil untuk membekali generasi muda dengan keterampilan praktis dalam budidaya pangan berkelanjutan. Melalui inovasi bioflok dan smart urban farming, Biotrop optimis dapat mendorong transformasi sistem pangan yang lebih inklusif dan tangguh dalam menghadapi tantangan masa depan.

Share this: