Source: https://radarbogor.jawapos.com/
Summary:
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan biodiversitas tertinggi di dunia. Namun di balik status sebagai negara megabiodiver sitas, Indonesia juga mengha dapi ancaman serius: semakin banyak spesies tumbuhan berada di ambang kepunahan. Dua di antaranya Adalah gaharu (Aquilaria malaccensis) dan Cendana (Santalum album), spesies bernilai ekologis, budaya, sekaligus ekonomi tinggi yang kini menghadapi tekanan akibat eksploitasi berlebihan, konversi lahan, serta perubahan iklim.
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan
biodiversitas tertinggi di dunia. Namun di balik status sebagai negara
megabiodiver sitas, Indonesia juga mengha dapi ancaman serius: semakin banyak
spesies tumbuhan berada di ambang kepunahan. Dua di antaranya Adalah gaharu
(Aquilaria malaccensis) dan Cendana (Santalum album), spesies bernilai
ekologis, budaya, sekaligus ekonomi tinggi yang kini menghadapi tekanan akibat
eksploitasi berlebihan, konversi lahan, serta perubahan iklim.
MENURUT IUC N Red List, banyak spesies pohon di
Indonesia masuk kategori rentan hingga kritis. Gaharu—penghasil resin aromatik
bernilai tinggi di pasar global—telah lama mengalami tekanan eksploitasi.
Sementara cendana, yang terkenal dengan minyak atsiri bernilai ekonomi tinggi, menghadapi
kesulitan regenerasi alami karena karakter biologisnya sebagai tanaman hemiparasit.
Tanpa intervensi berbasis sains dan kebijakan, kedua spesies ini berisiko terus
menurun, bahkan hilang dari habitat ala minya.
Di sinilah sains memainkan peran penting. Pendekatan konservasi
ex situ melalui Teknik kultur jaringan terbukti mampu mempercepat perbanyakan tanaman
langka yang sulit diregenerasi secara alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
modifikasi media kultur jaringan mampu meningkatkan multiplikasi tunas secara
signifikan. Pada cendana, kombinasi zat pengatur tumbuh tertentu mampu
menghasilkan hingga 19 tunas dari satu eksplan, jauh lebih tinggi dibanding
perlakuan lain yang hanya menghasilkan sekitar 4 tunas. Sementara pada gaharu,
kombinasi optimal meng hasilkan rata-rata 7,47 tunas per eksplan, lebih tinggi dibanding
perlakuan lain yang hanya berkisar 5,6–6,8 tunas. Data ini menunjukkan bahwa teknologi
tidak hanya menjaga, tetapi mampu memperbanyak spesies langka secara nyata.
Dari sisi ekonomi, implikasinya sangat besar. Gaharu merupakan
komoditas hutan bernilai tinggi dengan permintaan global untuk industry parfum,
farmasi, dan produk spiritual.
Namun eksploitasi tanpa regenerasi mengancam keberlan jutan
pasokan. Teknologi kultur jaringan membuka peluang produksi bibit dalam jumlah
besar, sehingga tekanan terhadap populasi liar dapat dikurangi dan budidaya
berkelanjutan dapat dikembangkan.
Hal yang sama berlaku pada cendana. Minyak atsiri Cendana memiliki
nilai ekonomi tinggi dalam industri kosmetik, farmasi, dan aromaterapi.
Namun keterbatasan bibit membuat produksi tidak stabil. Teknologi
perbanyakan modern memungkinkan penguatan rantai pasok bibit unggul, mendukung
rehabilitasi lahan, sekaligus meningkatkan ekonomi berbasis sumber daya hayati tanpa
merusak eko sistem.
Lebih luas, konservasi berbasis bioteknologi berpotensi
mendo rong ekonomi hijau. Produksi bibit unggul, rehabilitasi hutan, serta
budidaya berkelanjutan dapat menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat, sekaligus
menjaga kelestarian lingkungan. Konservasi bukan lagi beban pembangunan, tetapi
fondasi ekonomi berkelanjutan. Namun sains tidak dapat bekerja sendiri. Krisis biodiversitas
adalah persoalan lintas sektor: ilmiah, kebijakan, pendidikan, dan ekonomi. Indonesia
memiliki ratusan spesies pohon terancam punah, sementara tekanan terhadap hutan
terus meningkat.
Tanpa integrasi antara riset, kebijakan konser vasi, dan pembangunan
ekonomi hijau, upaya peles tarian akan berjalan parsial.
Pendekatan ini menjembatani sains, kebijakan, dan Masyarakat
dalam mendukung Pembangunan berkelanjutan. Upaya konservasi gaharu dan Cendana sejalan
dengan Tujuan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 15 (Ekosistem Daratan), SDG
13 (Aksi Iklim), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan), serta SDG 4
(Pendidikan Berkualitas).
Pelestarian spesies langka tidak hanya berdampak ekologis,
tetapi juga ekonomi dan sosial. Menyelamatkan gaharu dan cendana bukan sekadar
menjaga dua spesies pohon. Ini adalah upaya menjaga keseimbangan ekosistem, keberlanjutan
ekonomi berbasis sumber daya hayati, serta masa depan biodiversitas Indonesia. Jika
pohon langka hilang, bukan hanya alam yang rugi, nilai ekonomi bangsa ikut
menghilang.(*)
Download article