Hilangnya Pohon Langka, Hilangnya Nilai Ekonomi Bangsa?
Radar Bogor - on 16 Apr 2026

Source: https://radarbogor.jawapos.com/

Summary:

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan biodiversitas tertinggi di dunia. Namun di balik status sebagai negara megabiodiver sitas, Indonesia juga mengha dapi ancaman serius: semakin banyak spesies tumbuhan berada di ambang kepunahan. Dua di antaranya Adalah gaharu (Aquilaria malaccensis) dan Cendana (Santalum album), spesies bernilai ekologis, budaya, sekaligus ekonomi tinggi yang kini menghadapi tekanan akibat eksploitasi berlebihan, konversi lahan, serta perubahan iklim.

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan biodiversitas tertinggi di dunia. Namun di balik status sebagai negara megabiodiver sitas, Indonesia juga mengha dapi ancaman serius: semakin banyak spesies tumbuhan berada di ambang kepunahan. Dua di antaranya Adalah gaharu (Aquilaria malaccensis) dan Cendana (Santalum album), spesies bernilai ekologis, budaya, sekaligus ekonomi tinggi yang kini menghadapi tekanan akibat eksploitasi berlebihan, konversi lahan, serta perubahan iklim.

MENURUT IUC N Red List, banyak spesies pohon di Indonesia masuk kategori rentan hingga kritis. Gaharu—penghasil resin aromatik bernilai tinggi di pasar global—telah lama mengalami tekanan eksploitasi. Sementara cendana, yang terkenal dengan minyak atsiri bernilai ekonomi tinggi, menghadapi kesulitan regenerasi alami karena karakter biologisnya sebagai tanaman hemiparasit. Tanpa intervensi berbasis sains dan kebijakan, kedua spesies ini berisiko terus menurun, bahkan hilang dari habitat ala minya.

Di sinilah sains memainkan peran penting. Pendekatan konservasi ex situ melalui Teknik kultur jaringan terbukti mampu mempercepat perbanyakan tanaman langka yang sulit diregenerasi secara alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modifikasi media kultur jaringan mampu meningkatkan multiplikasi tunas secara signifikan. Pada cendana, kombinasi zat pengatur tumbuh tertentu mampu menghasilkan hingga 19 tunas dari satu eksplan, jauh lebih tinggi dibanding perlakuan lain yang hanya menghasilkan sekitar 4 tunas. Sementara pada gaharu, kombinasi optimal meng hasilkan rata-rata 7,47 tunas per eksplan, lebih tinggi dibanding perlakuan lain yang hanya berkisar 5,6–6,8 tunas. Data ini menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya menjaga, tetapi mampu memperbanyak spesies langka secara nyata.

Dari sisi ekonomi, implikasinya sangat besar. Gaharu merupakan komoditas hutan bernilai tinggi dengan permintaan global untuk industry parfum, farmasi, dan produk spiritual.

Namun eksploitasi tanpa regenerasi mengancam keberlan jutan pasokan. Teknologi kultur jaringan membuka peluang produksi bibit dalam jumlah besar, sehingga tekanan terhadap populasi liar dapat dikurangi dan budidaya berkelanjutan dapat dikembangkan.

Hal yang sama berlaku pada cendana. Minyak atsiri Cendana memiliki nilai ekonomi tinggi dalam industri kosmetik, farmasi, dan aromaterapi.

Namun keterbatasan bibit membuat produksi tidak stabil. Teknologi perbanyakan modern memungkinkan penguatan rantai pasok bibit unggul, mendukung rehabilitasi lahan, sekaligus meningkatkan ekonomi berbasis sumber daya hayati tanpa merusak eko sistem.

Lebih luas, konservasi berbasis bioteknologi berpotensi mendo rong ekonomi hijau. Produksi bibit unggul, rehabilitasi hutan, serta budidaya berkelanjutan dapat menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Konservasi bukan lagi beban pembangunan, tetapi fondasi ekonomi berkelanjutan. Namun sains tidak dapat bekerja sendiri. Krisis biodiversitas adalah persoalan lintas sektor: ilmiah, kebijakan, pendidikan, dan ekonomi. Indonesia memiliki ratusan spesies pohon terancam punah, sementara tekanan terhadap hutan terus meningkat.

Tanpa integrasi antara riset, kebijakan konser vasi, dan pembangunan ekonomi hijau, upaya peles tarian akan berjalan parsial.

Di sinilah peran SEAMEO BIOTROP menjadi penting. Sebagai pusat penelitian biologi tropika di Asia Tenggara, lembaga ini tidak hanya melakukan riset konservasi, tetapi juga pengembangan kapasitas,
pendidikan biodiversitas, dan diseminasi pengetahuan berbasis sains.

Pendekatan ini menjembatani sains, kebijakan, dan Masyarakat dalam mendukung Pembangunan berkelanjutan. Upaya konservasi gaharu dan Cendana sejalan dengan Tujuan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 15 (Ekosistem Daratan), SDG 13 (Aksi Iklim), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan), serta SDG 4 (Pendidikan Berkualitas).

Pelestarian spesies langka tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga ekonomi dan sosial. Menyelamatkan gaharu dan cendana bukan sekadar menjaga dua spesies pohon. Ini adalah upaya menjaga keseimbangan ekosistem, keberlanjutan ekonomi berbasis sumber daya hayati, serta masa depan biodiversitas Indonesia. Jika pohon langka hilang, bukan hanya alam yang rugi, nilai ekonomi bangsa ikut menghilang.(*)


Download article

Share this: