Summary:
BOGOR – Lonjakan luas lahan pertanian sebesar 1,7 juta hektare pada tahun 2025 hingga memasuki 2026 memicu diskusi hangat di kalangan akademisi.
Peneliti dari IPB University, Edi Santosa, menyebut fenomena ini sebagai keberhasilan penerapan konsep "Hexahelix", di mana aparat keamanan kini memegang peran vital yang nyata di lapangan untuk menjaga stabilitas produksi pangan nasional melalui pengawalan distribusi sumber daya.
Edi Santosa menilai kehadiran fisik aparat di tingkat bawah menjadi solusi atas persoalan klasik petani, terutama terkait konflik pembagian air.
Keterlibatan Babinsa dan Bhabinkamtibmas terbukti mampu menciptakan ketertiban yang selama ini sulit dicapai secara mandiri oleh petani.
"Dulu petani sering berantem cuma gara-gara urusan pembagian air. Sekarang, mereka tinggal lapor ke petugas, dan masalah selesai tanpa ada yang berani 'main-main'. Inilah kekuatan baru yang menjaga stabilitas produksi," tegas Edi saat diwawancarai di Bogor, Senin, 20 April 2026.
Menariknya, terdapat pembagian tugas yang mulai terpetakan secara alami di lapangan, di mana TNI cenderung lebih aktif mengawal komoditas padi, sementara Polri banyak masuk ke komoditas jagung.
Meski keterlibatan ini sulit diukur secara kuantitatif dalam statistik, fakta lapangan menunjukkan perubahan signifikan pada produktivitas.
"Satu hal baru yang mungkin belum banyak masuk dalam literatur adalah peran aparat. Kita bisa menyebutnya bukan lagi Pentahelix, melainkan 6-Helix (Hexahelix). Saya melihat dari sisi fungsinya: perannya nyata di lapangan," tambah Edi.
Namun, Edi juga memberikan catatan kritis terhadap kinerja aparatur sipil negara (ASN) yang memiliki tugas utama dalam penyuluhan.
Ia mengamati adanya ketimpangan aktivitas di lapangan, di mana petugas keamanan justru terlihat lebih gesit dibandingkan tenaga penyuluh pertanian.
Menurutnya, harmonisasi antara fungsi keamanan dan fungsi penyuluhan teknis harus terus ditingkatkan agar percepatan tanam bisa berjalan lebih optimal di masa depan.
Sebagai bukti fisik dari klaim swasembada ini, Edi merujuk pada melimpahnya stok beras di gudang Bulog yang saat ini mencapai 4,6 juta ton.
Angka ini dianggap sebagai bukti paling valid untuk mendukung data statistik mengenai peningkatan luas lahan tanam.
"Untuk tahun ini, pertama kalinya kita bisa melihat surplus itu secara nyata di gudang-gudang Bulog. Itu bukti pertama yang membuat saya percaya. Kalau ada yang meragukan data itu, ya silakan cek sendiri ke Bulog," pungkasnya.
Download article