Peneliti IPB Patahkan Narasi Feri Amsari Soal Kebohongan Swasembada: Data Statistik dan Stok Bulog Berbicara
voi.id - on 04 Jun 2026

Source: https://voi.id/berita/571188/peneliti-ipb-patahkan-narasi-feri-amsari-soal-kebohongan-swasembada-data-statistik-dan-stok-bulog-berbicara

Summary:

BOGOR – Peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Edi Sentosa, menanggapi dingin kritik tajam yang dilayangkan pengamat hukum tata negara, Feri Amsari, terkait klaim swasembada pangan pemerintah.

Edi menilai bahwa setiap gugatan terhadap kebijakan publik adalah hal wajar, namun harus berlandaskan data valid agar tidak terjebak menjadi sekadar opini yang menyesatkan publik.

Menanggapi tudingan Feri yang menyebut swasembada sebagai kebohongan, Edi merujuk pada angka statistik resmi yang menunjukkan realitas berbeda di lapangan.

Berdasarkan data BPS tahun 2025, produksi nasional mengalami lonjakan yang dipicu oleh peningkatan luas panen sebesar 1,7 juta hektar.

"Peningkatan produksi itu sebenarnya masuk akal. Katakanlah ada peningkatan luas panen 1 juta hektare, kalau dikalikan produktivitas rata-rata saja sudah 5 juta ton. Jadi, target pencapaian di tahun 2025 itu sangat masuk akal secara hitungan matematis," ujar Edi Sentosa di Bogor, Senin, 20 April 2026.

Edi menekankan bahwa bukti paling otentik untuk mematahkan tudingan "bohong" tersebut adalah ketersediaan fisik beras yang ada di gudang-gudang pemerintah saat ini.

Ia membandingkan kondisi sekarang dengan periode sebelumnya di mana klaim swasembada seringkali tidak dibarengi dengan ketersediaan barang yang nyata.

"Bukti paling otentik adalah stok beras di Bulog. Dulu angkanya diklaim naik, tapi barang di Bulog hanya ada sekitar 1 juta ton. Sekarang, stoknya mencapai 4,6 juta ton. Dengan dua data itu saja statistik dan fisik kita sudah punya dasar kuat untuk percaya," ungkapnya.

Lebih lanjut, Edi menyoroti fenomena perluasan konsep Pentahelix menjadi Hexahelix dalam pertanian nasional, di mana keterlibatan aparat menjadi kunci percepatan luas tanam setahun terakhir.

Meski keterlibatan ini kerap menuai pro-kontra secara politis, ia melihatnya murni dari kacamata fungsi teknis yang terbukti nyata di lapangan.

Edi mencontohkan bahwa model keterlibatan aparat dalam sektor pertanian juga pernah dilakukan di negara lain dalam kondisi darurat pangan.

Edi Sentosa menegaskan bahwa narasi swasembada pangan tahun ini bukan sekadar "panggung" politik, melainkan hasil sinergi yang terukur antara akademisi, pemerintah, petani, hingga peran aparat.

Baginya, data statistik yang selaras dengan tumpukan beras di gudang Bulog adalah jawaban paling telak untuk mengakhiri perdebatan mengenai kebenaran swasembada pangan di tahun 2026 ini.

Download article

Share this: