Stok Beras Nasional Tembus 8 Juta Ton, Ahli Peringatkan Risiko ‘Aging’ dan Penurunan Nutrisi
jabar.jpnn.com - on 04 Jun 2026

Source: https://jabar.jpnn.com/jabar-terkini/29824/stok-beras-nasional-tembus-8-juta-ton-ahli-peringatkan-risiko-aging-dan-penurunan-nutrisi

Summary:

jabar.jpnn.com, BOGOR - Isu ketahanan pangan kembali menjadi sorotan. Direktur SEAMEO Biotrop, Edi Santosa, mengingatkan bahwa melimpahnya stok beras nasional harus diimbangi dengan manajemen penyimpanan dan distribusi yang memadai agar kualitas dan kandungan nutrisinya tetap terjaga. Edi menjelaskan bahwa beras memiliki masa prima yang relatif singkat jika disimpan lebih dari empat bulan tanpa pengelolaan optimal, kualitasnya akan menurun secara alami. “Jika disimpan dalam empat bulan warnanya sudah berubah dari putih menjadi agak kuning. Perubahan warna itu menandai kualitasnya sudah turun. Makin lama disimpan, ‘tenaganya’ makin habis, tinggal tepung dan seratnya saja,” ujarnya.

Edi merujuk pada estimasi Perkumpulan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) tahun 2025 yang memperkirakan surplus beras dapat mencapai hingga 8 juta ton apabila panen berjalan baik. Surplus tersebut dinilai sebagai capaian positif dalam program swasembada pangan yang digelorakan Presiden Prabowo Subianto. Namun, menurut Edi, jumlah besar tersebut dapat menjadi bumerang apabila kualitas pengadaan sejak awal tidak dijaga, seperti kadar air gabah yang terlalu tinggi saat masuk penggilingan atau penyimpanan di gudang yang tidak memenuhi standar.

“Kalau kualitas turun terlalu jauh, bisa jadi beras tersebut tidak layak dikonsumsi. Misalnya, umurnya sudah lebih dari dua tahun, ditambah lagi kualitas saat masuk ke gudang mungkin tidak sesuai standar,” katanya. Ia menambahkan, konsumsi beras nasional saat ini didominasi beras medium sekitar 60 persen dan beras premium 40 persen.

Direktur SEAMEO Biotrop, Edi Santosa mengingatkan pemerintah bahwa kualitas beras bisa menurun kalau disimpan lebih dari empat bulan.

Data tersebut menunjukkan mayoritas masyarakat sangat bergantung pada stabilitas kualitas beras di pasaran.

Edi juga menyoroti kemungkinan masih adanya stok beras impor tahun 2023–2024 yang tersimpan di gudang. Menurutnya, transparansi dan percepatan distribusi perlu dilakukan agar beras tidak mengalami penurunan mutu atau rusak akibat hama dan kelembapan. “Seingat saya ada impor tahun 2023–2024 menjelang pemilu yang sebagian mungkin masih ada di gudang dan mulai dikeluarkan. Ini penting untuk segera disalurkan agar manfaatnya optimal,” ujarnya. Ia menekankan bahwa beras yang disimpan terlalu lama berisiko kehilangan kandungan mineral dan senyawa penting lainnya yang dibutuhkan tubuh. Tanpa pengawasan ketat, masyarakat dikhawatirkan hanya mengonsumsi sisa karbohidrat tanpa manfaat gizi maksimal. Menurut Edi, keberhasilan peningkatan produksi harus dibarengi pembenahan infrastruktur penyimpanan. Gudang konvensional di Indonesia dinilai masih rentan terhadap kelembapan dan serangan hama.

Ia membandingkan dengan praktik di sejumlah negara maju yang telah menggunakan sistem pengendalian suhu dan kelembapan secara ketat. Modernisasi fasilitas penyimpanan, termasuk pendingin dan sistem sirkulasi udara, dinilai menjadi syarat penting agar kualitas beras tetap terjaga. Selain itu, Edi menyarankan agar penyimpanan dilakukan dalam bentuk gabah yang dinilai lebih tahan lama dibandingkan beras giling, dengan catatan fasilitas pengeringan tersedia dekat lahan sawah. Efisiensi rantai distribusi juga menjadi perhatian. Ia mencontohkan distribusi beras ke Kalimantan Timur yang dinilai lebih efisien jika mengambil pasokan dari Sulawesi Tengah dibandingkan dari Jawa Timur atau Kalimantan Selatan. “Percepatan distribusi menjadi kunci agar masyarakat benar-benar menikmati beras segar, bukan beras yang sudah terlalu lama tersimpan di gudang,” tegasnya. Edi menilai surplus produksi merupakan langkah penting menuju kedaulatan pangan. Namun, tanpa manajemen stok dan teknologi penyimpanan yang memadai, tujuan menghadirkan pangan berkualitas bagi masyarakat berisiko tidak tercapai secara optimal. (mar7/jpnn)

Download article

Share this: