Saat Beras Tak Lagi Putih: Cadangan Menggunung, Mutu Menyusut – Alarm BIOTROP untuk Negeri
beritasatu.com - on 04 Jun 2026

Source: https://www.beritasatu.com/network/jabar-online/785649/saat-beras-tak-lagi-putih-cadangan-menggunung-mutu-menyusut-alarm-biotrop-untuk-negeri

Summary:

JABARONLINE. COM, – Di balik angka cadangan pangan yang terlihat menenangkan, tersimpan persoalan yang jarang dibicarakan: mutu beras yang perlahan menyusut di dalam gudang. Direktur SEAMEO BIOTROP, Edi Santosa, mengingatkan bahwa beras bukan sekadar komoditas mati yang bisa ditumpuk tanpa batas waktu.

“Empat bulan disimpan saja, warnanya mulai berubah dari putih menjadi agak kekuningan. Itu tanda kualitasnya turun. Semakin lama, kandungan gizinya makin berkurang,” ujarnya, Rabu kemarin. 

Pernyataan itu menjadi pengingat keras bahwa ketahanan pangan tak cukup diukur dari besarnya angka stok. Beras adalah bahan pangan yang memiliki masa kebugaran. Jika proses pengeringan di hulu tidak optimal, atau penyimpanan di gudang tak memenuhi standar, penurunan mutu terjadi lebih cepat dari yang dibayangkan.

Angka Besar, Risiko Besar

Estimasi Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) tahun 2025 menyebut stok beras nasional berpotensi mencapai 8 juta ton, didorong surplus panen dua tahun terakhir.

Secara kuantitas, ini kabar baik. Namun Edi menegaskan, angka besar bisa menjadi bumerang jika kualitas awal tidak dijaga. Gabah dengan kadar air tinggi yang langsung digiling tanpa pengeringan memadai akan mempercepat kerusakan.

Mayoritas masyarakat Indonesia—sekitar 60 persen—mengonsumsi beras medium, sementara 40 persen memilih premium. Stabilitas mutu beras medium, dengan demikian, menjadi fondasi gizi jutaan keluarga.

“Kalau disimpan terlalu lama, apalagi lebih dari dua tahun, manfaatnya tidak lagi optimal. Kita harus jujur melihat ini,” katanya.

Bayang-bayang Stok Impor Lama

Sorotan juga tertuju pada beras impor tahun 2023–2024 yang masuk menjelang momentum politik nasional. Edi menduga sebagian stok tersebut masih tersimpan.

Ia menekankan pentingnya transparansi dan percepatan distribusi agar cadangan lama tidak berubah menjadi beban—atau bahkan mubazir karena rusak di gudang.

“Kalau terlalu lama disimpan, kita kehilangan nilai manfaatnya. Ini harus dikelola dengan teknologi dan tata niaga yang presisi,” tegasnya.

Simpan Gabah, Percepat Distribusi

Sebagai solusi, SEAMEO BIOTROP mendorong perubahan pola penyimpanan. Menurut Edi, menyimpan dalam bentuk gabah jauh lebih aman dibanding beras, asalkan tersedia fasilitas pengering yang dekat dengan lahan sawah.

Selain itu, efisiensi rantai logistik dinilai mendesak. Distribusi antarpulau harus mempertimbangkan jarak terdekat dan biaya terendah, agar beras sampai ke konsumen dalam kondisi segar.

“Ketahanan pangan itu bukan hanya soal tonase. Mutu, kecepatan distribusi, dan manajemen gudang sama pentingnya,” ujarnya.

Pesan BIOTROP jelas: cadangan yang menggunung tak akan berarti jika kualitasnya merosot. Di meja makan rakyat, yang dibutuhkan bukan sekadar beras—melainkan beras yang layak, segar, dan bergizi.

Download article

Share this: