Source: https://voi.id/berita/578168/saat-biodiversitas-menjadi-kunci-membangun-generasi-literat
Summary:
JAKARTA – Kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia dinilai belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber pembelajaran untuk meningkatkan kualitas literasi siswa. Padahal, potensi biodiversitas yang melimpah dapat menjadi "emas hijau" yang berfungsi sebagai laboratorium sekaligus perpustakaan alam untuk mendukung pendidikan berbasis sains kontekstual.
Manajer Forest and Mangrove Development (FMD) SEAMEO BIOTROP, Slamet Widodo, mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan model pembelajaran yang memanfaatkan keanekaragaman hayati sebagai sumber belajar langsung bagi peserta didik.
Menurut dia, pendekatan tersebut menjadi penting mengingat capaian literasi Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), Indonesia masih berada dalam kelompok sepuluh terbawah dari 81 negara peserta untuk kemampuan membaca, matematika, dan sains.
"Persoalan literasi di Indonesia bukan hanya persoalan pedagogik, tetapi sudah menjadi tantangan sistemik yang membutuhkan pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan peserta didik," kata Slamet Widodo dalam keterangannya, Rabu 3 Juni.
Ia menjelaskan konsep emas hijau merujuk pada pemanfaatan keanekaragaman hayati sebagai sumber pembelajaran yang memiliki nilai ekologis, ekonomis, dan ilmiah. Melalui pendekatan tersebut, siswa dapat belajar langsung dari lingkungan sekitar, mulai dari tanaman pangan, tanaman obat, hingga berbagai spesies yang memiliki potensi bioindustri.
Menurut Slamet, eksplorasi tanaman lokal dapat menjadi pintu masuk yang efektif untuk meningkatkan literasi sains karena peserta didik tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga melakukan observasi dan analisis terhadap fenomena nyata di lapangan.
"Literasi sains tidak lagi sekadar menghafal konsep, tetapi kemampuan memahami fenomena alam, mengevaluasi bukti ilmiah, dan mengambil keputusan berdasarkan data. Tanaman yang ada di sekitar sekolah dapat menjadi laboratorium hidup bagi siswa," ujarnya.
Ia menambahkan, melalui kegiatan seperti pengamatan morfologi tanaman, identifikasi spesies, pemetaan distribusi tanaman, hingga analisis kandungan sederhana, peserta didik dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan metode ilmiah secara langsung.
Pendekatan tersebut juga dinilai sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan karena mampu menghubungkan pembelajaran sains dengan isu lingkungan, ekonomi hijau, dan pengelolaan sumber daya alam.
"Ketika siswa mempelajari nilai ekologis dan ekonomi suatu tanaman, mereka tidak hanya memahami konsep biologi, tetapi juga memahami pentingnya keberlanjutan dan tata kelola sumber daya alam," katanya.
Untuk mendukung hal tersebut, Slamet mendorong sekolah mengembangkan berbagai fasilitas pembelajaran berbasis biodiversitas seperti kebun riset mini, herbarium digital, taman sensorik, hingga taman terapi yang dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium dan perpustakaan alam.
Menurutnya, model pembelajaran berbasis riset mampu mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, mulai dari biologi, geografi, ekonomi hingga teknologi informasi dalam satu kegiatan pembelajaran yang aplikatif.
"Perwujudan taman sensorik dan taman terapi sebagai laboratorium serta perpustakaan alami merupakan cara yang efektif dan adaptif untuk mengembangkan pendidikan berbasis kompetensi sekaligus mengakomodasi minat dan bakat siswa," jelasnya.
Meski demikian, Slamet menegaskan bahwa pemanfaatan biodiversitas sebagai sumber pembelajaran harus tetap berlandaskan prinsip keberlanjutan dan etika bioprospeksi.
Ia mengingatkan bahwa pendidikan berbasis emas hijau tidak boleh mendorong eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, melainkan harus menanamkan kesadaran mengenai pentingnya konservasi dan perlindungan pengetahuan tradisional yang dimiliki masyarakat.
"Keanekaragaman hayati harus dipandang sebagai sumber pengetahuan yang perlu dijaga dan diwariskan. Pendidikan menjadi instrumen penting untuk menumbuhkan kesadaran tersebut sejak dini," ujarnya.
lamet menilai rendahnya peringkat literasi Indonesia saat ini dapat menjadi momentum untuk melakukan inovasi dalam sistem pendidikan. Dengan memanfaatkan kekayaan biodiversitas yang dimiliki Indonesia, sekolah dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih relevan, kontekstual, dan berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas literasi siswa.Berita Indonesia Terbaru
"Ketika lingkungan sekitar diubah menjadi ruang belajar ilmiah, biodiversitas tidak lagi menjadi potensi yang terpendam, tetapi menjadi fondasi strategis untuk membangun generasi yang literat, adaptif, dan berorientasi pada keberlanjutan bangsa," kata Slamet Widodo.
Download article