Summary:
JABARONLINE. COM – Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu pengelolaan sampah dan keberlanjutan lingkungan, sebuah inovasi sederhana berbasis limbah organik hadir sebagai solusi yang menjanjikan. Melalui program magang capstone di SEAMEO BIOTROP, Alda Shofaa Zuleika memperkenalkan BioDeRa Nana, sebuah gagasan pemanfaatan limbah kulit nanas menjadi produk fermentasi bernilai tambah.
Selama ini, kulit dan bagian tengah nanas yang keras umumnya berakhir sebagai sampah rumah tangga. Padahal, limbah tersebut masih mengandung gula alami dan mikroorganisme yang dapat dimanfaatkan dalam proses fermentasi.
Menurut Alda, masyarakat sering memandang limbah dapur sebagai sesuatu yang tidak memiliki nilai ekonomi maupun manfaat lanjutan. Padahal, jika diolah dengan pendekatan ilmiah yang sederhana, limbah tersebut berpotensi menjadi sumber daya baru yang bermanfaat.
“Dalam dunia sains, tidak ada yang benar-benar sia-sia. Kulit dan bagian tulang nanas masih menyimpan potensi yang dapat dimanfaatkan melalui proses biologis alami,” ujarnya.
Melalui metode sederhana berupa perendaman limbah nanas dalam larutan gula dan pengamatan selama beberapa hari, terjadi proses fermentasi yang ditandai dengan munculnya gelembung-gelembung kecil dan perubahan aroma. Fenomena tersebut sering disalahartikan sebagai pembusukan, padahal merupakan tanda aktivitas mikroorganisme yang sedang menguraikan gula menjadi asam organik dan gas alami.
Proses tersebut menunjukkan bahwa penerapan ilmu pengetahuan tidak selalu membutuhkan teknologi mahal maupun fasilitas laboratorium yang kompleks. Dengan bahan yang mudah diperoleh, waktu yang cukup, dan kondisi yang tepat, masyarakat dapat memahami sekaligus mempraktikkan prinsip-prinsip dasar sains dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih dari sekadar pengurangan sampah, BioDeRa Nana juga membuka peluang ekonomi berbasis rumah tangga. Produk hasil fermentasi dapat dikembangkan menjadi produk olahan bernilai jual, sementara ampas sisa fermentasi masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos maupun pakan maggot.
Pendekatan ini menciptakan siklus pemanfaatan yang lebih berkelanjutan, di mana satu bahan dapat digunakan melalui beberapa tahapan sebelum akhirnya kembali ke tanah sebagai unsur penyubur alami.
Selain memberikan nilai ekonomi, pengolahan limbah organik juga berkontribusi terhadap pengurangan dampak lingkungan. Sampah organik yang dibiarkan membusuk di tempat pembuangan berpotensi menghasilkan gas metana yang menjadi salah satu penyebab pemanasan global.
Alda menilai bahwa Indonesia sebagai negara dengan kekayaan hayati yang melimpah memiliki peluang besar untuk mengembangkan berbagai inovasi berbasis sumber daya lokal.
“BioDeRa Nana menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru. Terkadang, inovasi hadir melalui cara pandang yang berbeda terhadap sesuatu yang selama ini dianggap tidak berguna,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa laboratorium tidak selalu identik dengan ruang steril yang dipenuhi peralatan canggih. Dapur rumah, ruang kelas sekolah, hingga lingkungan sekitar dapat menjadi tempat lahirnya proses ilmiah melalui kegiatan pengamatan, pencatatan, evaluasi, dan eksperimen sederhana.
Melalui pengembangan BioDeRa Nana, Alda berharap masyarakat semakin menyadari bahwa limbah organik masih memiliki nilai dan potensi besar untuk dimanfaatkan. Kesadaran tersebut diyakini dapat mendorong tumbuhnya budaya riset yang lebih membumi sekaligus memperkuat kemandirian masyarakat dalam mengelola sumber daya yang tersedia di sekitarnya.
Pada akhirnya, BioDeRa Nana bukan hanya tentang fermentasi kulit nanas, melainkan juga tentang perubahan cara pandang. Bahwa di balik sesuatu yang sering dianggap sebagai sampah, tersimpan peluang, pengetahuan, dan inovasi yang dapat memberikan manfaat bagi lingkungan, ekonomi, serta masa depan bangsa.
Download article