BIOTROP Peringatkan Risiko Kepunahan Gaharu dan Cendana Terhadap Ekonomi Indonesia
voi.id - on 04 Jun 2026

Source: https://voi.id/berita/576294/biotrop-peringatkan-risiko-kepunahan-gaharu-dan-cendana-terhadap-ekonomi-indonesia

Summary:

JAKARTA — Lembaga penelitian biologi tropika Asia Tenggara, SEAMEO BIOTROP, memperingatkan ancaman serius runtuhnya nilai ekonomi hayati Indonesia akibat krisis kepunahan pohon langka.

Dua komoditas bernilai tinggi, gaharu (Aquilaria malaccensis) dan cendana (Santalum album), kini berada di ambang kritis di habitat alaminya.
Manajer HCID SEAMEO BIOTROP, Dewi Suryani, menyatakan bahwa eksploitasi berlebihan, konversi lahan, dan perubahan iklim menjadi pemicu utama merosotnya populasi kedua spesies tersebut. Berdasarkan data IUCN Red List, status keduanya kini masuk dalam kategori rentan hingga kritis.

"Gaharu yang menghasilkan resin aromatik bernilai tinggi di pasar global telah lama mengalami tekanan eksploitasi. Sementara cendana menghadapi kesulitan regenerasi alami karena karakter biologisnya sebagai tanaman hemiparasit," kata Dewi dalam keterangan tertulisnya.

Guna mengantisipasi kepunahan total, SEAMEO BIOTROP mendorong intervensi bioteknologi melalui konservasi ex situ dengan teknik kultur jaringan. Langkah ini terbukti secara ilmiah mampu mempercepat perbanyakan tanaman yang sulit tumbuh alami. Data riset terbaru menunjukkan hasil signifikan pada modifikasi media kultur, di mana kombinasi zat pengatur tumbuh pada cendana mampu menghasilkan hingga 19 tunas dari satu eksplan, naik tajam dibanding metode biasa yang hanya menghasilkan 4 tunas. Sementara pada gaharu, kombinasi optimal mampu menghasilkan rata-rata 7,47 tunas per eksplan, lebih tinggi dari perlakuan standar di angka 5,6 hingga 6,8 tunas.

Kelangkaan bibit selama ini membuat produksi minyak atsiri cendana dan pasokan gaharu untuk industri parfum, farmasi, serta kosmetik global menjadi tidak stabil. Eksploitasi tanpa pemulihan dinilai langsung mengancam keberlanjutan industri berbasis kehutanan tersebut. Dewi menegaskan, kesuksesan teknologi kultur jaringan ini membuka peluang produksi bibit unggul dalam skala masif sehingga tekanan terhadap populasi liar di hutan dapat ditekan, sekaligus menjadi fondasi bagi pengembangan ekonomi hijau yang melibatkan masyarakat.

"Konservasi bukan lagi beban pembangunan, tetapi fondasi ekonomi berkelanjutan," tegas Dewi.

Kendati solusi sains telah tersedia, SEAMEO BIOTROP menegaskan krisis biodiversitas ini tidak dapat diselesaikan secara parsial. Perlu ada integrasi cepat antara hasil riset, kebijakan konservasi pemerintah, dan sektor pembangunan ekonomi. Langkah penyelamatan ini juga berkaitan langsung dengan pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia, khususnya terkait ekosistem daratan, aksi iklim, konsumsi dan produksi berkelanjutan, serta pendidikan berkualitas.

Dewi memungkasi bahwa menyelamatkan gaharu dan cendana adalah upaya menjaga keberlanjutan ekonomi berbasis sumber daya hayati. "Jika pohon langka hilang, bukan hanya alam yang rugi, nilai ekonomi bangsa ikut menghilang," ucapnya.


Download article

Share this: